Wednesday, September 22, 2010

BATIK MOTIF YOGYAKARTA

BATIK CUWIRI [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai “Semek’an” dan Kemben. Dipakai saat upacara “mitoni”

Unsur Motif : Meru, Gurda

Filosofi : Cuwiri artinya kecil-kecil, Diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati

BATIK SIDO MUKTI [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain dalam upacara perkawinan

Unsur Motif : Gurda

Filosofi : Diharapkan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.

BATIK KAWUNG [Batik Tulis]

Zat Warna : Naphtol

Kegunaan : Sebagai Kain Panjang

Unsur Motif : Geometris

Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan

BATIK PAMILUTO [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan

Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya

Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].

BATIK PARANG KUSUMO {Batik Tulis]

Zat Warna : Naphtol

Kegunaan : Sebagai kain saat tukar cincin

Unsur Motif : Parang, Mlinjon

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah

BATIK CEPLOK KASATRIAN [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain saat kirab pengantin

Unsur Motif : Parang, Gurda, Meru

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Dipakai golongan menengah kebawah, agar terlihat gagah

BATIK NITIK KARAWITAN [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain panjang

Ciri Khas : Kerokan

Unsur Motif : Ceplok

Filosofi : Pemakainya orang yang bijaksana

BATIK TRUNTUM {Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Dipakai saat pernikahan

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.

BATIK CIPTONING [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain panjang

Unsur Motif : Parang, Wayang

Ciri Khas : Kerokan Filosofi : Diharapkan pemakainya menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk jalan yang benar

BATIK TAMBAL [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai Kain Panjang

Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru

BATIK SLOBOG [Batik Tulis]

Zat Warna : Naphtol

Kegunaan : Sebagai kain panjang

Unsur Motif : Ceplok

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Slobog bisa juga “lobok” atau longgar, kain ini biasa dipakai untuk melayat agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap yang kuasa

BATIK PARANG RUSAK BARONG [Batik Tulis]

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain panjang

Unsur Motif : Parang, Mlinjon

Ciri Khas : Kerokan

Filosofi : Parang menggambarkan senjata, kekuasaan.

Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.

BATIK UDAN LIRIS

Zat Warna : Soga Alam

Kegunaan : Sebagai kain panjang

Unsur Motif : Kombinasi Geometris dan Suluran

Ciri Khas : Kerokan Filosofi : Artinya udan gerimis, lambang kesuburan

Tuesday, September 21, 2010

Batik - History

Even though its exact history is uncertain, fragments of batik’s projected origin dates back to the first century where it was discovered in ancient Egyptian tombs. Evidence of early Batik has also been found all over the Middle East, in India, Central Asia and Africa.

By the nineteenth century, after the importation of more finely woven cloth from India and Europe, it became a highly accomplished art form in Java and Bali in Indonesia. Recognizable motifs, patterns and colors were developed and designed to identify one’s family, social status and geographic origin. Some experts feel that it was originally reserved for Javanese royalty on that island, and possibly a pass time of the princesses and noble ladies of the time. The word Batik seems to come from an Indonesian word 'ambatik', a cloth with little dots.

In the seventeenth century as the world grew smaller, batiking was introduced to Holland and other parts of Europe. In the early 1900’s, batik fabrics became very fashionable in Germany. Later on, Europeans and Americans traveling and living in the East rediscovered the ancient process and brought it back to their homelands. Today, art schools across the United States offer batik courses as part of their textile curricula.